Kisah Nyata Tentang Maut

Alkisah, malaikat maut pernah masuk ke ruang Nabi Sulaiman a.s. Ia menatap tajam kepada salah seorang yang duduk didekat Nabi. Setelah malaikat maut itu keluar, orang yang duduk didekat Nabi bertanya “Siapa orang tadi?” tanyanya. “Dia malaikat maut”. Jawab Nabi Sulaiman.

“Kulihat ia menatapku lekat-lekat, seperti menginginkan ku, aku sangat takut. Tak hanya itu, ia tampak... ia tampak bingung!”

“Bingung?”

“Ya, paduka. Ia tampak bingung!

“Terus, mau mu apa?” tanya Nabi Sulaiman

“Karena aku telah lama mengabdi, Paduka pernah berjanji akan memenuhi permintaanku.” Ucap laki-laki itu

“Ya, katakanlah!”

“Aku ingin lepas darinya. Mohon paduka segera perintahkan angin agar membawa ku ke ujung India.” Pinta laki-laki itu

Nabi Sulaiman pun menyuruh angin membawa orang itu, dan angin tunduk melakukannya.

Setelah itu malaikat maut datang lagi, Nabi Sulaiman berkata, “Kulihat kau menatapi salah seorang yang duduk bersamaku tadi?”

“Ya, aku heran pada orang itu. Sebab, aku diperintah mencabut nyawanya di ujung India sebentar lagi, Padahal tadi ia disini bersama mu. Aku benar-benra kebingungan.” Ucap malaikat maut.

“Sekarang tak usah bingung lagi,’ tukas Nabi Sulaiman. “Karena apa yang sudah termaktub niscaya terjadi. Ruh yang kau cari memang ada di Hindusatan!”

Saudaraku, saat kita memasuki kehidupan, saat itulah kamatian kita diputuskan. Begitu penjelasan Jalaluddin Rumi mengakhiri cerita diatas. Suka tidak suka manusia pasti mati. Dan kita tak mungkin bisa mengelaknya. Cerita diatas mengingatkan kita pada firman Allah Swt, yang artinya:

“Dimanapun kalian berada, kematian pasti mengejar kalian, sekalipun kalian berada dipuncak benteng yang kokoh” ( al-Nisa’ [4]: 78). 

“Katakanlah, kematian yang kalian hindari itu pasti menemui kalian” ( Ali ‘Imran [3]: 145).

Dan seperti kisah nyata yang terjadi disebuah rumah sakit besar di Jakarta, Beberapa tahun lalu dua orang dijadwalkan untuk operasi. Yang pertama pria belia berpenyakit usus buntu, dan yang kedua pria tua berpenyakit kanker. Ahli bedah yang sama melakukan operasi pada kedua orang tersebut. Operasi usus buntu dilakukan secara sederhana dan barakhir dengan cepat. Ketika sang dokter mengoperasi pria tua yang berpenyakit kanker, ia melihat kanker tersebut telah menyebar sedemikian rupa sehungga ia tidak mungkin lagi dioperasi. Setelah itu ia menutup kembali pembedahan tersebut.

Sang dokter mengatakan, si pemuda mungkin memiliki kesempatan hidup yang panjang, tetapi pria tua tidak akan bertahan lama. Namun, malam itu pria muda tersebut meninggal dunia. Dan beberapa hari berselang, si pria tua meninggalkan rumah sakit. Beberapa bulan kemudain, ia kembali kerumah sakit membawakan sang dokter buah-buahan dan sayuran segar dari kebun miliknya. Tampaknya, ia dalam kondisi kesehatan yang baik.

Saudaraku, kita mungkin berfikir bahwa kita kuat, sehat dan masih memiliki banyak waktu, tapi peristiwa tersebut membuat kita tersadar: Kematian dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja (sehat, kuat, muda,tua, anak-anak, bahkan bayi sekalipun). Kita tidak tahu berapa lama lagi waktu yang kita miliki. Ketentuan hidup sepenuhnya ditangan Allah Swt. Ibarat buah kelapa, bila telah matang, maka ia akan jatuh sendiri ketanah tempat asalnya. Ada yang jatuh sewaktu masih berbentuk putik, ada yang jatu setelah tua “Manusia tidak mengetahui kapan dan dimana ia akan mati” (Lukman [31]: 34).

Baca Juga : Tips Menjadi Muslimah Anti Galau Walau Jomblo!!!

Intinya, mati itu pasti. Namun kapannya tidak pasti. Kebenaran itu begitu sering diucapkan tapi begitu mudah juga dilupakan. Hampir setiap hari kita menyaksikan orang mati. Keluarga, teman, kerabat, tetangga, satu persatu pergi meninggalkan kita. Kita pun kerap melawati kuburan mereka, atau bahkan datang menziarahinya. Tapi, apakah kita memetik pelajar dari peristiwa itu? Apakah kita sudah memiliki kesadaran tinggi bahwa kita pun kelak akan mengalaminya: mati, dikuburkan, dan dimintai pertanggung jawaban atas segala perilaku kita semasa hidup? Sulit dan jarang, bahkan boleh jadi kita tidak mengambil pelajaran sama sekali, kematian seolah hanya menimpa orang lain, hanya mengenai kerabat dan keluarga dan tidak dengan diri kita sendiri. Padahal, “Setiap jiwa pasti akan mengaliami kematian” ( Ali imran: 185). Tidak ada satupun yang terkecuali.

Semoga dengan ini menambahkan kesadaran untuk kita akan mengingat mati dan membuat diri kita untuk semakin hati-hati dalam menjalani kehidupan, membuat diri kita lebih bersemangat lagi dalam mempersiapkan maut yang entah kapan terjadi. Agar kita menjadi orang yang tidak lalai lagi merugi, hingga selamat dunia dan akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin

Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Like dan Share postingan ini agar bermanfaat bagi semua orang, Semoga Allah Swt membalas setiap kebaikan kita, barakallah. Aamiin Allahumma Aamiin

Sumber: Ustadz H.Aep Saepulloh Darusmanwiati, M.A.

( Dalam buku Tamasya Ke Alam Kubur)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Nyata Tentang Maut"

Posting Komentar